Sabtu, 06 Agustus 2011

Senja Menjadi Pucat

Kamar ukuran dua meter persegi tersebut nampak bersih dari biasanya. Kepengapan yang menemani gombal-gombal di sudut kamar sekarang tidak nampak lagi. Entah dari mana, salah satu kamar Lembaga Pemasyarakatan itu menemukan cahaya keceriaan dan kebahagiaan. Kamar tesebut dihuni oleh laki-laki tua yang sudah pantas menjadi seorang kakek. Umurnya kira-kira hampir mendekati delapan puluh tahun. Usia yang sudah semestinya telah membuatnya renta dan hampir pikun. Tubuhnya tidak tegap seperti ketika ia masuk pertama kali di kamar itu, sekarang lebih kelihatan ada benjolan di punggungnya. Matanya cekung, dahinya yang agak lebar nampak bekas luka akibat tendangan sepatu lars seorang tentara. Pipinya sudah memperlihatkan keriputan yang sangat. Namun suaranya masih lantang, keras, tegas seperti dulu. Seperti saat-saat ia masih aktif menjadi propagandis organisasi underbow partai terlarang di zaman orde baru. Ketika itu ia merupakan salah satu pemimpin Barisan Tani Indonesia.
Pagi itu matanya berkaca-kaca, terharu, bangga dan setumpuk perasaan yang mencerminkan kebahagiaan tiada tara. Hari yang cerah itu ia akan meninggalkan ruang tahanan yang menakutkan bersama beberapa tahanan lain yang mendapatkan amnesti dari pemerintah. Sebenarnya ia di vonis seumur hidup, namun keuletan dan kedisiplinan yang ditunjukkan selama berada di lembaga pemasyarakatan tersebut, akhirnya ia mendapatkan kebebasan yang sesungguhnya belum pernah ia berani untuk membayangkannya.
          “Dasuki, bagaimana sudah siap toh?”, tanya seorang petugas LP sekedar basa-basi.
          “ Sudah Pak”, Jawab Dasuki penuh dengan ketegasan.
          “Kau nanti mau kemana, eh tinggal dimana”,  tanya petugas itu lagi, meluncur tanpa sengaja.
          “E.. e… entah pak, yang pasti aku akan ke daerah asalku dulu”,  kali ini ia jawab dengan keraguan.
          Sambil berjalan ke kantor tiba-tiba saja keceriaan di wajah Dasuki agak berkurang, kebahagiaan yang tercermin dari sorot matanya tersebut, tertutup oleh sedikit kemurungan yang tiba-tiba hadir dan tidak mampu ia sembunyikan.
          Sesampainya di kantor, sudah ada beberapa teman lain, yang memiliki nasib sama. Mereka di bebaskan pada peringatan hari proklamasi yang ke lima puluh delapan. Tanpa ada yang menginstruksi mereka yang kebanyakan sudah tua-tua tersebut saling berjabat tangan berpelukan, bahkan ada yang menitikan air mata.
          “Saudara-saudara sekalian”, tiba-tiba Ketua LP memecahkan kesyahduan tersebut.
          “Saudara-saudara sekalian, hari ini kalian akan di bebaskan dari tahanan ini, pesan saya berbuat baiklah kalian di tengah masyarakat, kembangkanlah keterampilan yang kalian dapatkan di sini, sehingga kalian menjadi orang-orang yang kreatif, tidak lagi menjadi sampah masyarakat. Dan ingat jangan sekali-kali mempunyai niat kembali untuk tinggal di rumah tahanan yang menyengsarakan seperti ini, mengerti?”, tanyanya spontan.
          “Mengerti, Pak”,  jawaban orang-orang itu kurang kompak.
Akhirnya sampailah mereka di pintu gerbang, dan keluar. Ada yang heran, ada yang bangga, ada yang menangis, ada yang haru. Mereka pun berjabatan tangan sekali lagi sebelum akhirnya berpisah satu sama lain.
***
          Dasuki berjalan menuju terminal bus. Kakinya seperti berat untuk diangkat, jalannya gontai tidak menentu. Ia teringat bagaimana ketika masih muda, tegas, pemberani dan dihormati orang banyak. Ia juga masih ingat ketika bapaknya di tumpas oleh sekawanan tentara, karena terlibat Partai Komunis Indonesia. Tiba-tiba ia tertawa kecut, ketika mengingat saat ia ditangkap tentara. Sore itu ia bersama beberapa temannya duduk-duduk di teras rumah. Meski Sholat Maghrib akan tiba, tapi pertemuan non formal itu tak di bubarknnya juga. “Sudahlah sholat itu nggak penting, kita bisa menggantikan sholat dengan membaca hatinya surat Yaasin, ya… , yang bunyinya; salamun koulam min robir rokim, itu kamu baca sebelas kali tiap hari, sudah bisa menggantikan sholat”, ungkapnya pada saat itu.
Dasar nasib sedang sial, setelah mengucapkan tersebut, ada tetangganya yang mempunyai sepupu tentara, keesokan harinya ia diciduk. Dan akhirnya di vonis penjara seumur hidup, tanpa melalui persidangan. Hal itu terjadi karena akhirnya ia terbukti sebagai salah satu pimpinan dari organsasi Barisan Tani Indonesia. Masih untung tidak seperti bapaknya, yang tewas beberapa tahun sebelumnya karena menjadi aktivis PKI.
Dasuki masih berjalan gontai, dan jelas tambah bungkuk di usia senjanya tersebut. Sebelum di penjara ia belum sempat menikah, padahal usianya saat itu sudah tiga puluh satu tahun lebih. Ia sempat berpacaran dengan seorang gadis bernama Soemini, anaknya Kaji Muktar. Akan tetapi hubungannya tersebut kandas karena ketahuan bahwa, ia tak pernah sholat. Soemini hanya bisa nangis, sementara Dasuki bisanya misuh-misuh, dan marah. Pada saat ia telah di penjara tujuh tahun, Dasuki mendengar kabar bahwa ibunya telah mati, karena stres dan jantungan. Rumahnya yang lumayan luas kabarnya menjadi suwung dan di huni oleh dedemit, gendruwo dan hantu gentayangan.  
          Matahari bertambah tinggi, suasana kota tersebut tambah panas, perutnya keroncongan, biasanya waktu selepas tengah hari tersebut, di LP ia telah makan bersama kawan-kawannya meski dengan lauk jauh dari sederhana. Dasuki belum sampai terminal, atau mungkin ia telah salah jalan karena terlalu lama tidak menyaksikan kota yang telah berubah tersebut. tanpa disadari, kaki tuanya berjalan menuju sebuah warung makan. Warung sederhana di bawah pohon Mahoni di pinggir jalan.
          “Nak, nasi rames dan es teh, kalau ada sambel pete”, pintanya tanpa basa-basi.
          “iya mbah, mari silahkan duduk, tunggu sebentar ya”, jawab perempuan setengah baya tersebut.
Dilihatnya keseluruh bangku warung tersebut, yang nampaknya kosong. Hanya ada seorang pemuda sedang makan nasi dengan sayur asem, tangan kirinya memegang tempe goreng yang kelihatan gurih sekali. Mungkin karena lapar pemuda tersebut dengan lahap makan tanpa memperdulikan orang yang datang di sampingnya. Dasuki hanya geleng-geleng kepala.
          “ini mbah, es tehnya”, kata penjual tersebut mengagetkan Dasuki yang asyik melihat pemuda itu sedang makan.
          “ oh… iya nduk”, jawab Dasuki sambil menerima gelas dingin tersebut.
Sebentar kemudian nasi rames dan lalapan sambel pete sudah siap ia makan. Dasuki tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menikmati makanan favoritnya sejak kecil dulu. Setelah hapir selesai, pemuda di sebelahnya telah selesai membayar makanannya, dan kemudian keluar, meninggalkan Dasuki dan penjual di warung itu.
setelah selesai Dasuki panik, bingung, namun sekali lagi es teh di teguknya untuk menghabiskan seluruh isinya.
          “e… begini nak, sa… saya tidak punya uang, untuk membayar makanan ini”, ucap Dasuki jujur.
          “Lho gimana toh bapak ini, mau makan enggak mau bayar?”, jawab perempuan itu ketus.
          “ sebentar toh, saya belum selesai ngomong, dengar dulu, ya”, kini di ucapkannya lebih tegas dari yang pertama.
Dasuki menceritakan apa yang dialaminya selama ini pada perempuan tersebut, di ceritakannya semua nasib sial yang telah merenggut masa muda hingga tuanya yang ia habiskan dalam rumah tahanan. Dasuki juga menceritakan tentang bapaknya, emboknya, dan peristiwa sore sial itu yang mengantarkan dirinya ke penjara.
Perempuan itu terheran-heran, ia yang semula jengkel, menjadi simpati juga mendengar cerita Dasuki.
          “tapi, anu kok nduk, sekarang saya sudah tobat, makanya hari ini aku dapat di bebaskan”, kata Dasuki mencari simpati.
          “ya sudah mbah, tidak usah bayar juga engak apa-apa, lha sekarang terus mau kemana?”, tanya pemilik warung tersebut menyelidik.
          “ora ngerti nduk, tidak tahu entah mau kemana, wong kabarnya rumahku di desa yang dulu kini telah di huni demit, maklum nggak ada yang nempati, pewaris satu-satunya ya aku, lha wong aku ini anak tunggal”, jawab Dasuki menerawang jauh.
Suasana sunyi, hanya lalu lalang kendaraan di jalan yang terdengar menderu-deru.
          “embah mau membantu kami, tinggal disini, kebetulan saya sendirian hanya di temani genduk yang sekarang baru kelas tiga SMU, bapaknya meninggal karena kecelakaan sewaktu jadi sopir dulu ketika anaknya masih kelas lima SD”, perempuan itu mencoba menawari.
          “lha apa yang nanti bisa saya kerjakan, nduk?”, tanya Dasuki yang nampak lugu.
          “ya… bisa bersih-bersih, menimba air, membantu bawa belanja dari pasar, bisa toh mbah”, jawab perempuan itu agak meminta.
          “oh yo wis, ya sudah saya akan coba, namaku Dasuki, panggil saja pak Dasuki, biar kelihatan lebih muda”,  harap Dasuki agak genit.
          “saya Kartini mbah, eh… pak, sedang anak perempuanku namanya Yayuk”, perempuan itu memperkenalkan.
          “sebentar lagi juga anak yang malang itu datang, biasanya kalau sudah siang begini dia pulang sekolah, kasihan Yayuk yatim mulai dari kecil”, kata Kartini sambil membereskan piring-piring yang telah selesai di pergunakan para pembeli di warung sederhana tersebut.
***
          Sudah satu bulan lebih Dasuki hidup bersama keluarga tersebut, meski sudah tua, namun ia masih cekatan. Segala pekerjaan ia laksanakan dengan lapang dada. Pagi-pagi ia sudah menimba air, setelah matahari terbit membereskan warung. Sementara Kartini ditemani Yayuk memasak di dapur yang sempit akan tetapi cukup rapi. mungkin karena dibersihkan tiap sore oleh Yayuk, sehingga tidak nampak sampah berserakan. Di ruang belakang tersebut hanya ada dua bilik kecil selain dapur. Satu untuk sholat, satunya lagi kamar tidur dengan amben tua yang masih kokoh. Di sampingnya kelihatan lemari dengan cermin yang cukup besar. Meskipun bilik atau kamar tersebut tak berjendela namun sangat terang karena cahaya lampu yang sengaja di hidupkan terus-menerus. Bila malam datang, kartini dan anaknya tidur di kamar tersebut yang hanya di tutup dengan kain korden. Biasanya sebelum tidur mereka melihat acara-acara di telivisi yang ditempatkan di pojok ruangan tersebut. sementara Dasuki tidur di tempat sholat, atau kadang-kadang tidur di bangku depan yang berada di warung.
          “Pak… besok hari Minggu kita nggak usah jualan, aku mau nengok embahnya Yayuk di Desa, Yayuk tidak ikut katanya senin ada ujian atau apa”, kata Kartini, saat mereka istirahat sore hari.
          “He eh, terus belanjanya hari Senin bagaimana?”, tanya Dasuki.
          “Biar itu sudah diurusi genduk, Minggu sore aku paling sudah datang?”, jawab Kartini singkat.
          “Sudah nduk sana mandi, sudah sore?”, perintah Kartini pada anaknya yang telah selesai membersihkan dapur.
          “Katanya ibu mau berangkat ke tempat embah sekarang, ibu dulu yang mandi nanti ketinggalan bis” Jawab Yayuk sambil mencuci tangannya.
          Matahari mulai meredup cahayanya. Angin sore datang menghampiri, menyapu panasnya terik siang tadi. Kartini bersiap di pinggir jalan menunggu bis lewat untuk berangkat, ditemani anaknya yang menggelayut manja. Sementara Dasuki melihat dari kejauhan. Dilihatnya ibu dan anak yang telah membantunya dengan hati yang berdebar-debar. Mereka kelihatan bersih dan ayu. Terutama Yayuk yang masih belia, meskipun ia belum mandi sore itu, namun kulitnya yang kuning langsat menambah berdebar hati Dasuki.
Sebentar saja bis datang. Kartini bersalaman dengan anaknya lalu naik bis. Yayuk bergegas menuju kamar mandi, setelah senyum pada Dasuki yang melihatnya dari tadi.
          “Mbah, sana mandi keburu Maghrib nanti lho, nanti kan tetap sholat jama’ah toh, meski ibu pulang ke desa?”, tanya Yayuk setengah mengajak.
          “Bener nduk nanti sholat jamangah seperti biasanya”, Jawab Dasuki singkat sambil mengambil handuk di samping rumah kecil tersebut.
          Setelah selesai makan malam, Dasuki bermaksud membereskan piring-piring yang selesai di cuci tadi sore.
          “Sudahlah mbah, istirahat dulu, sini kalau mau nonton tivi, ibu kan enggak ada” saran Yayuk yang sudah di anggap cucunya sendiri itu.
          “ Ia nduk sebentar, aku tak mengunci pintu warung depan tadi belum di kunci”, jawab Dasuki.
          Setelah selesai mengunci dan mematikan lampu warung depan. Dia membuka korden bilik Yayuk dengan ragu-ragu. Ia duduk agak menyamping dan jauh, meski masih dalam satu amben. Di lihatnya Yayuk cengar-cengir melihat tingkahnya yang kaku tersebut. tiba-tiba jantungnya berdebar, ia melihat Yayuk hanya mengenakan rok pendek, kaus ketat warna kuning, rambutnya ia biarkan tergerai panjang dan hitam. Hidungnya mancung seperti ibunya.
Malam makin larut. Yayuk telah mengucek matanya berkali-kali.
          “Mbah Yayuk mau tidur, kalau mbah Dasuki mau nonton tivi di sini saja enggak apa-apa”, kata Yayuk memberitahukan.
          “Iya nduk”, jawab Dasuki.
          Tengah malam ada yang menggelora di hati Dasuki, ia melihat celana dalam yayuk. Ia tidak mampu berbuat apa-apa. Jantungnya berdetak keras. Entah setan mana yang merasukinya. Tiba-tiba TV dan lampu ia matikan. Dan segera ia melorotkan celananya. Malam itu ia berusaha memperkosa gadis belia yang telah dianggapnya seperti cucu sendiri. Yayuk berteriak, sebentar saja orang-orang datang dengan mendobrak pintu.
          “Oh dasar bajingan, dasar PKI”, teriak mereka
ada beberapa diantaranya berani memukuli Dasuki tanpa ampun. Dasuki di bawa ke kantor polisi. Sementara Yayuk menangis, sambil ditolong ibu-ibu tetangga sebelah.
          Keesokan harinya Dasuki diantar ke Lembaga Pemasyarakatan yang dulu pernah di huninya itu. Ia dijebloskan ke penjara lagi tanpa melalui persidangan. Tepat hari yang ke 39 setelah kebebasannya kemarin, ia masuk kembali ke penjara yang paling dibencinya itu.
          Hari pertamanya ia lewati dengan tangis, sore hari ia melaksanakan sholat Ashar. Pada sujud rokaat yang terakhir, ia tidak bangun-bangun. Ia meninggal setelah syarafnya kena pukul beberapa orang kemarin.(fmf)

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites