Suyak sudah tidak bersedih lagi. Memang, kematian istrinya empat puluh hari lalu sangat memukul bathinnya. Tidak hanya kehilangan orang yang begitu ia cintai, lebih dari itu ia merasa bersalah atas perilakunya sebagai dukun yang justru membuatnya kehilangan sang belahan jiwa. Suyak tidak muda lagi. Sekarang ia ditemani tiga anaknya yang menginjak dewasa. Tubuhnya mulai membungkuk, keriput di kulit cokelatnya jadi penanda bahwa usianya sudah lanjut. Hampir-hampir ia tak beruban, karena rambut tuanya sudah gogrok mematuhi kehendak alam. Matanya cekung, hidung lebar dan dahi tebal. Bibir perotnya hitam, menunjukkan bahwa ia perokok berat, saat bergerak tangannya sudah mulai bergetar.
Waktu mengabarkan malam sudah larut. Baru saja ia menyeleggarakan upacara kecil memperingati empat puluh tahun meninggalnya sang istri. Suyak merenung di pendapa rumahnya sendirian. Dilihatinya seisi ruangan rumah satu-satu. Mulai dari kaca rumah yang buram, lantai yang pecah-pecah hingga genting yang sudah tak rata lagi. Perlahan ia arahkan matanya di pintu kamarnya, sesungguhnya ia tidak suka berlama-lama diruangan tersebut. Namun karena harus melakukan ritual tertentu, ia pun terpaksa didalamnya berjam-jam menahan bau kemenyan, bunga tujuh rupa, minyak-minyak jimatnya yang berbaur menjadi apek atau bahkan amis.
Matanya berkali-kali berkedip, mulutnya menguap berulang, tubuhnya lemas ingin istirahat. Namun keinginannya untuk memperhatikan sekitar rumah masih kuat. Suyak melongok kedepan, halaman rumahnya luas. Dari sana terlihat jalan raya yang terkadang padat dan ramai, maklum jalan tersebut merupakan jalur utama peninggalan Hindia Belanda pada masa Gubernur Deandeles. Sesaat Suyak menyadari pohon mangga dan Jambu di depan rumahnya teryata hanya memberi kesan singup, tapi saat akan dirobohkan anak-anaknya keberatan, karena saat berbuah kedua pohon itu bisa melegakan mereka. Rumah yang terletak diujung barat desa itu hanya ditemani oleh dua rumah lain dan satu masjid. Disebelah rumah terdapat keluarga mantan aktifis Lekra, dan rumah diujung barat ada seorang kyai bersahaja serta sebuah masjid tua. Sekalipun demikian, Suyak tidak sholat apalagi berjama'ah. Mungkin karena kakinya yang buntung, saat harus diamputasi akibat penyakit Lepra pada masa revolusi fisik dulu. Namun kelihatannya bukan disebabkan itu, karena sejak muda memang ia tak pernah sholat. Baginya hidup adalah untuk mengabdi pada sesama manusia dan kehendak alam.
Konon ia menganut ajaran Dharmogandul, ajaran kejawen. Ia tidak tahu pluralisme, toleransi atau apapun tentang ajaran hidup bersama. Namun ia sudah terbiasa dan akrab dengan kedua tetangganya. Mereka saling segan dan menghormati. Baginya kebersamaan semacam itu lebih penting daripada ritual keagamaan tanpa makna. Malam semakin larut, tak terasa ia telah ditemani mimpi-mimpi yang mampu menghiburnya keluar dari kegetiran hidup.
Pagi menjelang bersama belasan kokok ayam di belakang rumah. Suyak telah berikrar untuk tetap menggeluti profesiya sebagai dukun. Ia telah cuti selama satu bulan lebih pasca meniggalnya sang istri. Namun sebenarnya hati kecilnya ingin menyudahi profesi ganjil itu. Sayang ia tak mampu mendapatkan pemasukan ekonomi lain, selain dari membantu orang-orang yang datang meminta pertolongan. Kadang hanya sekilo gram gula dan dua bungkus kopi atau rokok, namun baginya itu tak penting, justru mendermakan kelebihan yang ia miliki bagi manusia lain menjadi prioritasnya.
Kematian istrinya tak lepas dari hasil profesinya. Saat datang seseorang untuk meminta hari yang tepat guna melangsungkan pemugaran rumah, Suyak menetapkan salah satu hari yang dianggapnya baik. Akan tetapi perhitugannya tersebut menjadi bumerang karena pada tanggal yang telah ia tentukan justru ia kehilangan istri untuk selamanya. Niat baik untuk membantu orang lain telah menguat kembali dan mengubur kedukaan dalam-dalam bersama jenazah istrinya. Hari ini Suyak mulai membuka praktek untuk membantu orang lain.
Setelah beberapa hari membuka praktek perdukunan tak satupun tamu yang datang memohon bantuannya. Mungkin kebanyakan mereka tau kalau mbah Suyak sedang berduka, oleh karenanya mereka enggan datang. Sampai pada suatu sore datang seorang lelaki setengah baya yang lusuh pakaianya. Handuk kecil dan topi koboi menandai kalau ia seorang buruh kasar.
"Kulo nuwun mbah" sapa Wartono sambil membungkukkan punggung memasuki pintu rumah sang dukun.
"Monggo, tumben datang kesini, suwe ora ngetok, piye tarikan becakmu lancarkan, sampai lupa dengan mbah", jawab Suyak sambil mempersilahkan duduk.
"Justru itu mbah, saya lagi sepi, tukang becak sekarang susah kalah sama orang-orang yang ngojek, alasan mereka lebih murah dan cepat, makanya saya butuh batuan njenengan mbah", ungkap Wartono tanpa basa-basi.
"Bantuan apa?, apa yang bisa mbah bantu, le!" selidik Suyak sambil membenarkan lintingan rokoknya.
"Anu mbah…. Saya pingin ngerti nanti malam ee..ee.. nanti malam nomor yang keluar berapa?" jawab tamu tersebut malu-malu.
Sambil senyum kecut Suyak pun menjelaskan bahwa nanti sore di tempat mangkal becaknya Wartono, perempatan dekat pasar akan ada sebuah kejadian. Kalau tamunya jeli ia akan mendapatkan wangsit dari sana. Tanpa menunggu lama, setelah Wartono nyruput kopi buatan Sriyanti, anak ragilnya Suyak, ia pun bergegas keluar. Sambil salaman ia menyelipkan dua lembar lima ribuan, yang ditanggapi oleh dukun tua itu sambil manggut-manggut.
***
Setelah kedatangan Wartono dulu, yang hanya meninggalkan kabar bahwa ia mendapatkan nomor buntut sehingga akhirnya dapat beli motor bekas, tak ada lagi tamu yang datang membutuhkan jasanya. Hanya sekali, Istri Wartono datang mengirimkan amplop ucapan terimakasih buat Suyak, karena wangsit nomor kendaraan yang kecelakaan di perempatan dulu, ia sekarang telah beralih profesi sebagai tukang ojek. Setelah itu tak ada kabar lagi mengenai tamu-tamunya.
“Assalamu’alaikum”, suara perempuan seumurannya mengagetkan lamunannya sore itu.
“Monggo, bu, ada apa kok bu Nyai repot-repot kesini?” tanya Suyak penuh sopan pada istri tetangganya yang kyai itu.
“Ini mau minta tolong, besok Supri bisa bantu mbedol ketela nggak, soalnya rencananya besok pagi mau panen ketela di tegalan”, keluh bu Nyai itu meminta bantuan anak Suyak yang lelaki.
“Oh bisa, bisa bu, lagian Supri juga nggangur gak ada kerjaan, biar nanti saya kasih tahu agar dapat mbantu pak Kyai di tegalan”, jawab Suyak dengan keramahan yang sama.
Sebelum sempat terimakasih dan pamit pulang, datang tamu lain masuk ke ruang tamu yang pengap itu. Pak Muhtar datang dengan setelan baju yang pas dengan postur tubuhnya. Tinggi tegap dan berpeci, menandakan ia seorang priayi desa yang disegani. Setelah bu Nyai meninggalkan mereka, Muhtar mengutarakan maksudnya. Rencananya bulan depan ia hendak mengawinkan anak perempuannya dengan lelaki dari desa tetangga. Kedua keluarga sudah cocok dan saling menyetujui. Namun yang masih mengganjal adalah perihal waktu atau tanggal yang tepat untuk melangsungkan pernikahan itu.
“Oh… jadi karena itu sampeyan menyempatkan datang ke gubug saudaramu ini”, komentar Suyak, sambil membenarkan kaki pincangnya, karena telah lelah sedari tadi duduk di kursi kayu.
Muhtar hanya senyum malu, namun ia tanpa sengaja mengangguk mengiyakan komentar tuan rumah itu.
“Anak dan calon mantumu wetonnya apa, pasarannya, biar tak hitung dulu cocok nggak, nanti penanggalanya jatuh sandang, papan, pangan opo justru jatuh pati” selidik Suyak mulai serius.
“ Kalau anakku lahirnya Selasa Kliwon, sedangkan calon suaminya itu kalau nggak salah Minggu Pahing” jawab Muhtar antara yakin dan ragu.
Suyak mulai berfikir keras. Ia membenarkan duduknya yang mulai melorot, lalu menggerakkan jarinya mulai berhitung. Dengan teliti ia mengurutkan nama-nama pasaran dan tanggalan Jawa untuk menemukan waktu yang tepat bagi Muhtar untuk mengawinkan anaknya. Hari mulai gelap, senja itu menyisakan semburat merah di ujung Barat. Muhtar tetap setia menunggu hasilnya, ia mulai gelisah dan berkeringat. Pecinya yang lancip itu, di lepas dan digerak-gerakkan di depan dadanya. Muhtar, yang Carik desa itu mulai kegerahan. Sesekali mengucek matanya, ia mulai mengantuk.
“Yang tepat, laksanakan besok Jum’at Wage, jika yang berkuasa berkehendak, kelak anakmu dan keluarganya murah sandang”, saran Suyak di akhir kesimpulannya.
“Berarti itu nanti jatuh tanggal 18 November, ya sudah, saya sekarang manteb, do’a restunya, mbah”, jawab Muhtar sambil pamit pulang. Tak lupa ia pun menyelipkan amplop sekedarnya, sebagai ucapan terimakasih.
***
Supriyadi, anak lelaki satu-satunya sekarang ikut membantu keluarga kyai desa itu. Meskipun kadang ia merasa risih karena tak pernah datang ke masjid, namun ia ikut bangga menyertakan putranya membantu dan mengaji di tempai Kyai Mahmud. Sesungguhnya ia punya alasan untuk tidak sholat atau ke masjid, dan mungkin menurutnya itu di maklumi Kyai, yakni kaki kirinya yang buntung. Ia tak menyesal, karena dengan keadaanya semacam itu, ia merasa bebas untuk tidak sembahyang, apalagi ke Masjid. Tidak seperti tetangganya yang mantan aktifis Lekra, sekalipun gagah dan sehat, namun juga tak pernah sembahyang. Tetapi mereka tak pernah mencibir satu sama lain. Ketiga keluarga di ujung barat desa itu paham betul bagaimana menghargai orang lain. Mereka pandai menempatkan urusan pribadi dan kepentingan bersama dalam hidup bermasyarakat.
Anak lelaki kebanggaannya telah tumbuh dewasa. ia berharap kelak Supriyadi jangan sampai meneruskan profesinya sebagai dukun. Di usia senjanya ia hanya berharap agar putranya itu dapat berguna bagi lingkungan dan orang lain. Tak terkecuali bagi keluarga Kyai Mahmud atau tetangganya yang atheis itu.
Setelah sarapan pagi ia kaget. Bau petai dan sambal terasi yang masih menyeruak dari mulutnya tak dihiraukan. Jam dzuha belum sempat bergeser. Matahari masih sepenggalah naik. Tangannya semakin gemetar, degup jantungnya berpacu keras dengan tarikan nafasnya yang semakin lemah. Ia tergopoh-gopoh menuju pintu depan rumahnya. Beberapa tetangga telah berhamburan di halaman. Kepala Suyak semakin pening. Sementara kedua anak perempuannya mulai meraung-raung dalam isak tangis yang mengencang. Sebelum ia jatuh tak sadarkan diri, deru sirene ambulan itu pun berhenti.
“Mbah, Supri mati, barusan kesrempet bus yang melaju kencang, sabar mbah”, bisik seorang tetangganya memberi informasi.
Suyak lemas, matanya dijejali ribuan bintang. Ia hanya dapat tunduk lemas. Air mata tuanya telah habis. Mulutnya mengatup bisu. Harapannya hilang. Dibantu beberapa tetangga, ia diangkat menuju dipan di ruang tengah. Sesudah kepanikan orang-orang yang sibuk membicarakan kronologi kecelakaan yang menimpa Supriyadi, Kyai Mahmud mendekati Suyak.
“Kang, sabar, sudah menjadi taqdir-Nya, sebaiknya Supri di kubur setelah sholat Jum’at, sekalian nanti disholatkan di masjid, agar banyak orang yang ikut menghormati jenazah putramu”, saran kyai desa itu sambil mengucapkan bela sungkawa.
Dukun tua itu mulai sadar. Hari itu, hari Jum’at Wage, waktu yang menurutnya tepat bagi keluarga Muhtar melangsungkan pernikahan. Namun kenyataannya membawa celaka bagi keluarganya sendiri. Kesalahan penghitungan penanggalan itu terulang kembali. Setelah istrinya menjadi korban salah hitungan, kini giliran putra harapannya menjadi korban praktek perdukunan yang telah lama menghidupinya.
Ia lemah, Suyak merasakan tubuh rentanya diangkat orang menuju masjid bersama jasad putranya. Ia disandingkan dan disholatkan bersama oleh para jama’ah yang terenyuh melihat kedua jasad anak-bapak itu sebelum dikuburkan.(fmf)







0 komentar:
Posting Komentar