Sore itu semburat senja merah menunjukkan keelokan pada burung-burung kecil yang kembali menuju sarang. Angin Tenggara telah mengabarkan aroma khas tanah dari sawah yang sedang menunggu air hujan di luar desa. Kesejukan udara membuat anak-anak segera kembali ke rumah untuk mempersiapkan diri berangkat ke langgar di tengah kampung itu. Beberapa rumah telah menyalakan lampu, terkadang beberapa dari keluarga tersebut telah memulai makan malam, sebelum berangkat ke langgar untuk melaksanakan sholat Maghrib.
Akan tetapi rumah kecil itu masih gelap, bahkan nyaris tanpa suara yang menandakan adanya kehidupan. Hanya beberapa ekor ayam yang dengan nalurinya berkokok masuk kekandang di belakang rumah. Rumah tersebut hanya berukuran empat kali tiga meter, tanpa jendela, dan hanya ada satu pintu di bagian depannya. Dalam ruangan yang pengap itu hanya di bagi dua bilik. Bilik depan di fungsikan sebagai ruang tamu, meskipun yang tersedia hanya dipan reot yang hampir lapuk. Disampingnya ada meja tua dan ditemani dua kursi kuno. Sementara bilik belakang ada dapur dan beberapa batang kayu bakar, meja yang agak besar dan rak kecil tempat beberapa perkakas dapur ditempatkan. Rumah itu memang sederhana, sangat sederhana malah. Karena memang yang menghuninya hanya satu orang.
Satiman, nama orang itu. Ia berumur lebih dari delapan puluh tahun. Wajahnya telah jelas berkerut. Matanya cekung, telinganya lebar, hidungnya menunjukan khas masyarakat Jawa, tidak pesek dan tidak pula mbangir. Rambutnya hampir semua telah memutih. Tubuhnya telah membentuk angka tujuh, bungkuk dan kurus. Telapak kaki yang hanya sering ia lengkapi dengan sandal jepit yang selalu berlainan warnanya, telah bengkak dan pecah-pecah. Satiman hidup sebatangkara, ia pernah menikah namun istrinya telah mati muda setelah sempat mempunyai anak yang bernama Ngadiman. Anaknya juga telah pergi hidup bersama keluarganya setelah ia menikah dengan gadis tetangga desa. Lengkap sudah kesunyian tuanya itu. Senja yang indah belum sempurna ia nikmati, karena kepalanya tiba-tiba pusing siang tadi. Lirih suara adzan telah berkumandang, biasanya ia akan bergegas menuju ke Langgar, akan tetapi hadirnya malam itu Satiman sambut dengan mengerang lirih di dipan di bilik depannya. Ia memegangi kepalanya sambil terus berkomat-kamit lirih. Tidak ada yang tahu kemalangannya tersebut.
II
Malam semakin larut, rumah kecil itu masih gelap dililit udara dingin yang masuk di celah-celah gedhek. Satiman mulai memberanikan diri untuk bangun. Ia sadar bahwa tidak akan ada orang yang tahu atas segala sesuatu yang dialamiya. Satiman paham betul bahwa ia harus segera bangun dan menghidupkan lampu, karena ia yakin tidak akan ada yang menyalakan lampu kecuali dirinya sendiri. Satiman mengerti, di tengah malam itu ia harus menanak nasi, karena dia sepenuhnya percaya bahwa tidak akan ada orang yang datang untuk memasak nasi dan menyuapinya saat kelaparan. Satiman bergegas bangun meskipun ia sangat lemah, letih dan menahan lapar yang luar biasa. Dengan cekatan ia mulai meraba meja untuk mengambil korek api. Kemudian menyalakan lampu teplok yang ia letakkan di atas meja. Setelah menyalakan lampu belakang dan mulai menanak nasi ia keluar rumah menuju blumbang di belakang rumah untuk mengambil air wudlu. Jalannya lambat, sambil memegangi lampu teplok yang sengaja dibawanya untuk dijadikan teman. Sebelum sampai di sumber air tersebut ia harus melewati kandang ayam dan dua pohon mangga tua. Kunang-kunang, seperti biasa menumbuhkan keberaniannya untuk sendirian di telan gulita malam tersebut.
Sejenak kemudian ia bergegas kembali menuju rumah. Setapak demi setapak ia langkahkan kaki tua tersebut untuk segera kembali ke rumah, karena tubuh bungkuknya sangat lelah. Sebelum ia sempat sampai di kandang ayam belakang rumahnya, tepat di tengah dua pohon mangga Satiman melihat sesuatu yang tidak biasa. Di atas genting rumah reot itu nampak cahaya yang sungguh benderang, sungguh sangat terang. Satiman keheranan, mata rabunnya melihat dengan jelas cahaya itu berada persis diatas genting sebelah kanan rumah. Setelah mengamati cukup lama, ia segera melanjutkan langkah untuk memastikan apa yang terjadi dalam rumahnya. Tangannya kelihatan gemetar ketika membuka pintu satu-satunya. Ia tak mendapati apapun, kecuali keadanan yang sama ketika ia meninggalkan seperempat jam yang lalu. Segera ia ke bagian belakang, dan seperti dugaannya, tetap seperti semula, tidak ada yang aneh, hanya api dalam tungku yang mulai mengecil, dan beras yang telah menjadi nasi.
Makan malampun segera dimulai, dengan kecemasan ia menghabiskan nasi dan sambal serta beberapa ikan asin yang telah digorengnya. Segera setelah selesai makan ia ke bilik depan untuk melakukan sholat, meskipun Satiman jujur tidak bisa melafalkan beberapa bacaan sholat, akan tetapi ia memaksakan dirinya untuk mengerjakaan ritual tersebut. Menurutnya, hati tidak tenang kalau meninggalkan sholat. Pernah suatu saat ketika di tegalan saat ia sedang membedol beberapa ketela pohung, Satiman menunda sholat Dzuhur, mungkin karena malas untuk mencari air, wajar ketika itu sedang kemarau panjang. Satiman gelisah, cemas dan tidak mampu merumuskan kecemasannya. Ternyata saat ia pulang, ayam jago kebanggaannya mati di lempar batu oleh tetangga karena nelek di rumah orang tersebut. Satiman hanya menggerutu karena tidak berani berbuat apa-apa. Tetangganya tersebut seorang bayan, perangkat desa yang sangat di segani. Seperti malam itu, sekalipun telah lelah dan ngantuk ia sempatkan untuk melaksanakan sholat, setelah itu tidur.
III
Keesokan harinya ia bangun sedikit terlambat. Tubuhnya telah segar kembali, matanya cerah, wajahnya tidak lagi pucat seperti sore kemarin. Setelah sarapan ia mulai merenungi nasibnya kembali. Satiman tidak ke ladang, mungkin takut boyoknya kumat lagi sehingga ia memilih untuk istirahat beberapa hari mendatang. Satiman mulai menggelisahkan cahaya di atas rumahnya semalam. Ada apa?, mengapa?, ia mulai menyimpulkan sendiri. Ia tiba-tiba menyadari telah tua, bahkan teman-teman semasa kecilnya telah meninggal beberapa tahun yang lalu. Satiman merasa sendiri, sepi, dan meyakini beberapa saat lagi segera menyusul istrinya. Kesimpulannya itu mengantarkan pikirannya untuk berkunjung pada saudara jauhnya.
Segera pagi itu juga, ia berangkat menuju rumah Masri, adiknya, yang juga telah tua, namun tidak setua Satiman. Masri sedikit lebih beruntung karena hidup bersama Istri dan beberapa anak-anaknya.
“Masri, aku merasa sudah di kuntit Izro’il, kematian ku segera akan tiba”, keluh Satiman setelah sampai di rumah saudaranya tersebut.
“Hus, kang satiman ini ngomongnya ngawur”, ucap Masri memotong keluhan tamunya.
“Tidak Masri, aku memang sudah tua, semalam aku telah mendapatkan pertanda, rumahku di penuhi cahaya, entah cahaya apa, tapi sinarnya aneh, jingga dan sangat padat, aku takut kalau itu merupakan malaikat pencabut nyawa yang terus mengawasiku”, jelas Satiman sambil menerawang.
“Masri, ini aku membawa hanya beberapa ratus ribu rupiah, hasil panen ketela di tegalan kemarin, dan di kandang ada beberapa ayam cukup untuk menyelenggarakan acara selametan sampai tujuh hari”, lanjut satiman masih dengan kegalauannya.
“Jadi ri, tolong selenggarakan upacara kematianku yang wajar saja, tidak usah mewah dan tolong undang juga kaji Amir untuk ikut mendo’akanku”, pinta Satiman dengan lirih sambil matanya berkaca-kaca.
Mulut Masri terbungkam, tidak dapat berkata-kata, ia hanya menganguk meskipun sebenarnya tidak ingin mengangguk. Satiman nampak puas, seperti telah menyelesaikan beban yang berat dalam hidupnya. Ia kemudian pamit pulang, setelah sempat menengguk kopi yang di suguhkan Khasanah, istri Masri.
Sesampainya di rumah ia merebahkan tubuhnya ke dipan. Satiman merasa rumahnya menjadi wingit, angker. Entah perasaan itu datang dari mana. Mungkin nalurinya yang meyakini akan datangnya Izro’il, sehingga semuanya menjadikan dirinya gemetar. Ia pandangi perkakas rumahnya satu-satu. Sapu lidi yang sudah mulai memendek, topi putih yang telah berupah jadi coklat masih menempel pada dinding gedhek dari bambu tersebut. Tikar pandan yang berada di atas dipan yang menemani malam-malamnya telah sobek dan berlubang-lubang. Dari celah genting ia saksikan cahaya yang memaksa masuk dan menyapanya tiap pagi.
Namun pencabut nyawa, tidak segera hadir. Satiman telah lama menunggu, berhari-hari, minggu, bulan bahkan telah bertahun-tahun sejak peristiwa malam cahaya tersebut. Satiman tidak gelisah lagi, ia semakin ikhlas dalam menjalani hidup tuanya. Mungkin karena ikhlasnya sehingga tuhan masih sayang, dan belum berniat untuk memanggilnya. (fmf)







0 komentar:
Posting Komentar