Sabtu, 06 Agustus 2011

Mahkota di Kuburan

Kuburan kota tetanggaku memang unik. Meskipun tidak seangker dan sewingit yang ada di desaku, namun kuburan itu ramai  di kunjungi orang. Maklum saja, tempat tersebut sudah tua, bahkan sangat tua. Konon banyak orang-orang penting zaman dulu yang di kuburkan di tempat tersebut. setiap menjelang lebaran kuburan tersebut nampak ramai, seperti terminal malah. Ada yang bawa mobil, motor, kebanyakan berjalan kaki. Ditangan mereka membawa bunga-bunga khas kuburan. Kuburan yang luas tersebut, terdiri dari beberapa pohon besar, di sana-sini beberapa kaktus berdiri santun di kelilingi pohon Kamboja. Kuburan itu dikelilingi tembok setinggi satu setengah meter, jadi pas lagi ramai kelihatan dari luar, dari jalan yang melintas di depannya.
          Dekat gapura, ada seorang yang sangat kumal. Pakaiannya kotor, kulitnya hitam bersisik. Rambutnya sangat kelihatan kalau ia sudah lama tidak mandi, apalagi keramas. Dahinya lebar, alisnya mulai memutih, matanya cekung, namun menunjukkan sorot yang tajam. Hidungnya, meski sudah keriput seperti anggota kulit yang lain, namun tetap mancung. Bibirnya tebal, dan kadang-kadang ia bicara sendiri. Masyarakat setempat cuek saja dengannya, bahkan diantara mereka tidak ada yang tahu asal-usul laki-laki berusia tujuh puluhan tersebut. mereka memanggilnya Kasbullah. Tiap sore, bila anak-anak lewat dengan sepeda, ia akan diolok-olok dan dilempari dengan batu atau kaleng bekas. Bila sudah demikian, ia akan mengambil batu dan kaleng, kemudian disusun rapi disamping gombal-gombal lusuhnya.
          Tubuhnya yang kurus dan sakit-sakitan membuatnya tidak banyak bergerak. Paling-paling ketika ada orang meninggal, ia akan membantu menyapu kuburan tersebut biar nampak bersih. Entah ia dapat makan darimana, tapi bila ada orang yang meletakkan sesaji di kuburan tersebut ia sangat bahagia. Kasbullah tidak sholat, apalagi puasa, dia kelihatan betul tidak pernah menyentuh air. Mungkin karena itu bau badannya kurang sedap, bahkan agak busuk. Bila ada ibu-ibu lewat, tidak jarang mereka yang muntah-muntah. Beberapa orang pernah mencoba mengusirnya, tapi tetap saja ia berdiam di situ, sambil mulutnya komat-kamit entah ngomong apa.

II

          Sore di hari kamis itu langit agak mendung, aku mengayuh sepeda dengan kecepatan yang tidak seperti biasanya. Keluar dari, rumah tadi, ada perasaan yang tenang, puas dan gembira. Sambil tetap mengayuh sepeda ke kuburan kakek, aku hampir bersenandung lirih. Entah ada sesuatu kebahagiaan yang luar biasa di hatiku. Sarung yang aku pakai kadang tersingkap karena anginpun tak kupedulikan. Sampai di kuburan mungkin telah jam setengah lima. Sepeda onthel aku parkir di luar pagar. Aku tetap berjalan, tetapi kakiku tidak langsung mengajak ke kubur kakek, namun justru mendekati Kasbullah yang sedang asyik merapikan kaleng-kaleng bekas yang sudah neyeng itu. Dan perasaanku biasa saja, sambil memperhatikannya aku berjalan semakin dekat. Memang agak lengang saat itu, bahkan sepi, meskipun malam Jum’at wage. Ada beberapa orang di dalam kuburan yang luas, akan tetapi mereka asyik dengan do’anya masing-masing. Aku berjalan semakin dekat.
          “Assalamu ‘alaikum”, ucapku tanpa sengaja, sambil mengulurkan tangan.
          “ Wa… wa…wa’alaikum salam”, jawabnya gugup dan sangat kaget.
Tatapan matanya nanar, berkaca-kaca. Bibir tebalnya bergetar, tangannya bergetar, nafasnya kelihatan tambah berat. aku hanya mlongo, dan heran dengan apa yang telah aku lakukan. Kunikmati peristiwa tersebut tanpa beban. Kasbullah kemudian menundukkan kepala, setelah puas memandangiku. Aku pergi dan langsung kedalam kuburan, menuju makam kakekku. Di dalam sudah sepi, beberapa orang yang tadi terlihat juga sudah pulang. Langit semakin gelap.
          Aku membaca beberapa ayat Qur’an sebisanya, bahkan cendrung aku singkat biar agak cepat. Suara hewan-hewan kuburan yang ada di atas pepohonan mulai lirih berbunyi nyaring. Kadang perasaan takut muncul juga, namun karena telah terbiasa maka, ketakutan itupun cepat kuatasi. Setelah selesai bergegas aku keluar meninggalkan kuburan yang telah kosong sepenuhnya, dan semakin gelap. Aku bergegas menuju tempat parkir sepedaku. Aku pulang, dengan perasaan lega kukayuh sepeda dengan kecepatan yang sama pula dengan saat berangkat. Sebelum sampai di rumah adzan Maghrib telah berkumandang. Senja merah di ufuk barat, semakin kabur dan selanjutnya hilang dengan sendirinya.
          ”Piye nief, kamu tadi jadi ke kuburan embah”, tanya ibuku, memanggil nama pendekku, Munief.
          “Sudah bu, tapi di sana sepi, padahal ini kan malam Jum’at Wage”, jawabku memberi informasi.
          “mungkin karena tadi sore mendung, jadi sedikit orang yang ke makam keluarganya, takut kehujanan barang kali”, komentar ibu sambil membereskan mukena dan bersiap ke masjid di depan rumah.
          “bu lauk lele goreng tadi siang masih ada?”, tanyaku sambil memegangi perut.
          “kamu itu lho nief, sudah tahu ada adzan Maghrib malah tanya makanan. Sudah nanti saja”, jawab ibu sambil keluar rumah.
Aku membetulkan parkir sepeda dan langsung ke belakang mengambil air wudlu.         

III

          Malam semakian larut. Setelah makan malam aku langsung menuju kamar untuk tidur. Ngantuk sekali, lelah. Ingin tidur, tapi kenapa tak bisa. Jam telah berdentang sepuluh kali. Kesunyian malam itu menjadi sempurna, setelah tetangga sebelah mematikan televisinya. Suara gemeresek dari tetangga berganti dengan petir yang mulai menyambar-nyambar. Kilatan cahayanya kadang seperti lampu foto yang sedang di gunakan. Terang, terang sekali, namun sebentar. Lampu ruang tengah telah di matikan. Meski dingin, tapi hawa panas menyerangku. Keringat tetap keluar meskipun aku memakai kaus dan menyalakan kipas angin. Mungkin ini karena kamarku yang agak sempit, hanya dua kali tiga meter. Di samping dipan, ada almari tua yang kacanya sudah pecah. Tapi tetap saja cerminnya masih dapat aku gunakan untuk melihat mukaku yang kelihatan tambah gemuk. Ada meja, buku tertata rapi, beberapa berserakan, karena tadi siang ku baca dan belum ku rapikan.
          Hujan turun sangat deras, beberapa di selingi halilintar menyampaikan keangkuhannya. Suara Jangkrik dan Katak kalah jauh dengan suara besarnya yang menggelegar dan mengagetkan itu. Meskipun hujan turun deras tetap saja hawa panas aku rasakan. Aku merebah di atas amben peninggallan kakekku. Aku jadi teringat kakek. Saat masih kecil aku sering di kasih uang untuk beli permen. Kadang kala diajak ke sawah. Kakek punya sawah, meski tak begitu luas tapi cukup bermanfaat untuk membesarkan anak-anaknya, termasuk bapakku.
          Kakekku jarang sekali marah, ia menghadapi persoalan hidup dengan tenang, santun dan berfikir jangka panjang. Pernah suatu saat ketika ada banjir besar di desaku, embah mengajakku untuk ke sawah, melihat padi yang sudah pasti tenggelam karena banjir. Dalam perjalanan pulang aku menangkap dua ikan yang lumayan besar di kalenan yang airnya meluber sampai jalan becek tersebut. ”nief, ikan itu kembalikan saja, meskipun dari kalenan tapi itu sebenarnya luapan air dari kolam ikannya lik Iman, tidak baik makan barang subhat”, kata kakekku menasehati.  Hujan deras belum berhenti. Aku ingat kakekku, sekarang telah meninggal, tepat pada malam Jum’at Wage. Tadi sore aku mengunjungi makamnya.
          Tanpa kurencanakan tiba-tiba pikiranku ingat Kasbullah, bagaimana dia sekarang?. Kehujanan, kedinginan atau ia pergi untuk berteduh di suatu tempat. Aku ingat Kasbullah tadi sore kelihatan kaget sekali. Matanya berkaca-kaca, setelah aku sapa dengan salam. Tapi mengapa aku menyapanya?. Bukankah setiap Kamis sore aku melihatnya biasa saja. Aku mulai memikirkannya, meskipun jam telah berdentang sekali saja. Ternyata sudah larut, pikirku. Namun ingatanku pada Kasbullah semakin kuat. Kasihan dia tidak makan dan minum. Mandipun tidak, ia hanya akan di olok-olok oleh anak-anak yang pulang dari sekolah. bahkan warga setempat, bila mendapatkan anaknya nakal dan menangis akan bilang, “diam, kalau tidak nanti di makan Kasbullah”, lalu anaknyapun diam. Mungkin malam ini rambut keringnya akan basah kuyub oleh hujan yang sedikit mulai mereda. Bau badannya yang apek bisa jadi hilang karena hujan tadi. Tapi ia akan menggigil kedinginan. Kasihan Kasbullah. Aku tertidur.

IV

          Aku berdiri di tengah-tengah lapangan yang luas sekali, hanya ada rumput putih. Pohon dan bentuk-bentuk yang lain tidak tampak sama sekali. Semua serbaputih, langit demikian juga. Aku berdiri keheranan, tetap tegak menanti sesuatu. Aku melihat pakaian ku serba putih, namun yang mengherankan aku menggunakan pakaian kebesaran raja. Seperti raja atau pangeran dari Astinapura. Tapi semuanya serba putih, aku tertegun dan bingung. Panik, heran, dan takjub melihat pemandangan langka seperti ini. Tiba-tiba ada tangan yang memegang pundakku dari belakang.
          “Munief, kamu jangan heran, berbaliklah!”, suara itu datang sungguh tambah mengagetkan saja. Dengan gemetar aku berbalik menuju arah suara yang kelihatannya pernah aku dengar.
          “Ya, aku Hasbullah, engkau telah mengantarkanku menuju penciptaku, maka, terimalah ini, mahkota ini aku wariskan kepadamu, rawatlah baik-baik!”, kata Kasbullah sambil mengambil mahkota dari kepalanya. Ia berpakaian sama dengan aku. Tanpa sadar aku berjongok dan ia meletakkan mahkota putih penuh mutiara itu di kepalaku.
          “sudah berbaliklah, sana berjalanlah kebarat, kamu akan mengetahui rahasia Tuhan”, kata Kasbullah setelah memelukku.
Aku mulai berjalan ditengah padang yang serba putih tanpa membalik kebelakang. Berajalan terus, hingga akhirnya aku terbangun dari mimpi.
          Ternyata aku baru saja bermimpi. Aku tertegun, bingung, sama herannya ketika Kasbullah menerima salamku kemarin sore. Ada apa semua ini. Aku ingat-ingat betul mimpi yang baru saja agar tidak hilang dalam ingatanku. Mengapa Kasbullah orang tua kumal itu memberiku mahkota. Bukankah ia hanya gembel penunggu kuburan di kota tetangga. Bukankah ia hanya pengumpul kaleng bekas yang di lempar anak-anak. Aku semakin heran. Ibu telah pulang dari masjid setelah sholat Shubuh, menyadarkan aku bahwa pagi telah tiba.
          “nief, tangi, bangun sudah pagi, katanya kamu mau pergi ke Pak lik mu?”, perintah ibu sambil mengingatkan.
          “iya bu, aku sudah bangun kok”, jawabku singkat.
          Jam di dinding sudah menunjukkan setengah sembilan, aku mengeluarkan sepeda. Setelah ku bersihkan sepeda jengki itu aku bawa keluar rumah. Aku masuk lagi untuk berpamitan.
          “jadi kamu berangkat ke rumah Pak lik?”, tanya ibu.
          “tidak bu, aku mau ke kuburan embah”, jawabku singkat, sambil kucium tangan ibu.
          “lho, kemarinkan kamu sudah kesana toh?”, tanya ibu keheranan.
          “ada yang ketinggalan, sudah bu Munief berangat dulu” timpal ku sambil berjalan keluar rumah. Ibu menyaksikan dengan menggeleng-gelengkan kepala.
          Aku mengayuh sepeda sangat cepat. Mimpi semalam masih jelas dalam benakku. Aku ingin segera ketemu dengan Kasbullah, dan akan kutanyakan semuanya. Keringat keluar tanpa terasa membasahi baju dan topi yang kukenakan. Terik matahari di waktu Dzuha semacam itu memang baik untuk kesehatan, tapi panasnya cukup lumayan untuk membuat kulitku semakin mengkilat kehitaman karena keringat. Sepeda ku kayuh dengan cepat.
          Aku telah sampai di depan kuburan, kupandangi kanan kiri ada belasan orang yang baru saja keluar dari makam. Tidak seperti biasanya, pikirku. Pandanganku langsung tertuju pada tempat dimana Kasbullah duduk. Namun yang ada hanya tumpukan kaleng yang masih rapi, meskipun beberapa telah terisi air hujan. Aku bingung, dimana Kasbullah. Ku cari kanan dan kiri, namun tidak tampak. Oh mungkin ada orang meninggal, dan ia membantu menyapu di dalam kuburan. Maka akupun menuju pintu gerbang kuburan, dan beberapa orang ada disana.
          “pak melihat Kasbullah tidak?”, tanyaku tergesa-gesa.
          “Kasbullah?”, tanya bapak itu sambil saling berpandangan diantara mereka tanda keheranan.
          “iya pak, Kasbullah yang biasanya menunggui kaleng-kaleng itu”, jawabku, tak kalah heran sambil menunjuk kaleng-kaleng bekas.
          “Kasbullah, baru saja kami kuburkan, ia telah meninggal karena kedinginan semalam”, jawab salah satu dari mereka.
          “itu kuburannya, adek siapa, dan dari mana, siapanya Kasbullah?”, tanya yang lain.
          Aku tak memperdulikan pertanyaan itu, sambil menangis aku bergegas menuju kuburan yang tanahnya masih hangat tersebut. tanah itu harum, harum sekali. aku termenung sejenak, ku lihat nisan yang terbuat dari kayu tertulis: Hasbullah, wafat; Jum’at 10 Oktober 2003. Aku merenung sendirian memaknai mimpi-mimpi semalam. Orang-orang telah pulang membiarkan aku sendirian. Mengapa aku kemarin sore mengucapkan salam, mengapa Kasbullah kaget. Apa hubungannya dengan mimpiku semalam. Aku heran. Setelah selesai berdo’a aku pulang.
          Di atas sepeda aku berfikir, benarkah Kasbullah seorang Wali, yang setiap kulit hitam dan rambut keringnya berdzikir pada Allah. Benarkah ia seorang wali, yang setiap gumamnya adalah melafadzkan puji-pujian untuk penciptanya. Benarkah ia seorang wali, yang bila di ketahui derajat kewaliannya akan segera meninggal. Dan kalau benar, mengapa aku yang mendapatkan mahkota, untuk jadi penerusnya?.(fmf)

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites