Hari mulai gelap, seperti dua hari yang lalu, keluarga Soekirno dan Ngaisah tetap sepi setelah ditinggal anaknya Study tour ke Bali. Malam mulai merambat menjadi larut dan pekat dalam kegelapan. Mereka berdua menyisakan kecemasan dan kebahagiaan. Cemas karena putri satu-satunya belum datang, gembira karena menurut rencana besok pagi rombongan anaknya akan tiba.
Setelah makan malam, mereka duduk di ruang depan sambil menyaksikan acara televisi. Soekirno yang tidak punya pekerjaan tetap itu kadang merasa bangga dapat menyekolahkan anaknya sampai tingkat SMK, suatu hal yang sangat jarang dilakukan oleh tetangganya di kampung tersebut. Sambil mengepulkan asap rokok lintingannya ia membayangkan bahwa anaknya telah dewasa, dan sebentar lagi akan menjadi istri orang. Kalau sudah sampai pada tahap itu, ia akan menjadi kalut, dan sedikit cemburu, karena ia tidak ingin segera pisah dari putri tunggalnya tersebut. Sebenarnya ia punya satu anak lagi, sama perempuan, Maryam namanya, akan tetapi telah meninggal ketika anak pertamanya menginjak dewasa. Oleh karenanya, ia akan merasa sangat kehilangan, apabila suatu saat anaknya yang tinggal satu itu dinikahi orang. Ia masih mengepulkan asap, yang diharapkannya dapat mengantarkan ngantuk sehingga dapat istirahat malam ini.
Sementara itu istrinya yang duduk agak menyamping, asik membereskan pakaian yang tadi siang ia jemur, sambil sesekali melihat acara televisi, dan ia sempatkan pula untuk melirik suaminya yang nampak betul sedang memikirkan sesuatu.
“mikir, apa toh pak?, mbokya bicara, kok gelisah nampaknya”, tanya Ngaisah membuka pembicaraan.
“bu, pintu belakang rumah sudah di kunci, belum?”, ucap Soekirno balik bertanya.
“lho, bapak ini ditanya kok malah balik nanya, pintunya sudah dikunci, memangnya kenapa pak?”, jawab istrinya dengan penasaran.
“bu, Fatimah sekarangkan sudah dewasa, kira-kira besok tinggal bersama kita apa ikut suaminya ya?”, Soekirno mulai perbincangan serius setelah puntung rokoknya di matikan pada asbak tua dari kayu jati itu.
“bapak ini, anak masih sekolah kok mikirkan masalah kawin, jodoh, mbok nanti saja kalau anaknya sudah lulus, kasihan baru kelas dua SMK”, jawab Ngaisah sambil mengubah channel acara TV.
“bukan begitu bu, Fatimahkan anak kita satu-satunya, aku takut kehilangan dia, dan lagi kalau dia ikut suaminya, siapa yang bakal nempati rumah kita ini?”, ucap Soekirno datar.
“sudahlah pak, besok juga datang anaknya, mungkin bapak kangen ya, kok ngomonin genduk terus, sudahlah pak saya mau tidur dulu ngantuk, mungkin sekarang Fatimah lagi bawa oleh-oleh yang kita belum pernah menduganya, katanya di Bali ada semuanya, sudah pak”, kata Ngaisah sambil pergi ke ruang tidur.
Malam semakin mengabarkan bahwa dingin akan segera tiba, namun Soekirno masih gelisah sambil mengipasan kertas koran tanda ia sedang diserang hawa panas. Ia gelisah, tapi tidak mampu merumuskan apa yang ia gelisahkan. Kadangkala, ia senyum sendiri ketika mengingat pertemuan pertamanya dengan Ngaisah, saat ikut mengejar layangan sampai ke desa tetangga. Saat itu Ngaisah remaja sedang bermain loncatan menggunakan tali karet. Mereka saling berpandangan dan akhirnya berkenalan. Apalagi saat itu Kirno yang mendapatkan layang-layang putus yang ia kejar bersama beberapa kawannya sehingga membuatnya semakin bangga dan percaya diri. Sesaat kemudian ia nampak murung dan kelihatan sedih sekali, ketika anak pertamanya, Maryam meninggal akibat di serang penyakit TBC. Sayang anak yang putih dan ayu itu harus mendahului kedua orang tuanya. Soekirno tetap gelisah, sementara jam di dinding telah menunjukkan pukul sebelas lebih.
Di ingatnya baik-baik, awal hidup berkeluarga dengan Ngaisah, perempuan desa anak seorang guru Ngaji. Awal kehidupan keluarga muda yang penuh dengan perjuangan. Bahkan ia sebenarnya kurang direstui oleh kedua orang tua Ngaisah, karena tak bisa membaca rapal-rapal dalam sholat. “nduk masak kamu mau nikah sama orang Abangan?”, sindir bapaknya Ngaisah suatu saat. Ia ingat betul saat itu, sehingga ia harus belajar membaca bacaan Tahiyyat Akhir pada teman sekampungnya. Malam terus bergulir, ngantukpun menghinggapi bapak berusia empat puluh delapan tahun tersebut.
II
Dilihatnya Ngaisah telah tertidur pulas, entah mimpi apa yang sedang menggelayuti istri tercintanya. Jarum jam telah menunjukan pukul dua. Sekarang ia agak tenang, besok anaknya akan datang, mungkin Shubuh sudah sampai Yogyakarta. Ia rebahkan tubuhnya disamping Ngaisah. Matanya mulai terpejam, meski lampu kamar tetap dinyalakan. Soekirno segera menyusul kepulasan istrinya menuju ruang-ruang mimpi yang menghinggapi tidur mereka.
“pak, pak, bangun, siapa yang mengetuk pintu malam-malam begini, pak, bangun, bangun ada tamu?”, ucap istrinya yang terbangun karena pintu depan ada yang mengetuk.
“pak bangun toh, itu lho ada tamu malam-malam!”, ulang Ngaisah setelah mendapati suaminya masih malas-malasan bangun.
“siapa sih bu, jam tiga begini kok bertamu, nulayani adat saja”, kata Kirno sambil membenarkan sarung dan langsung kedepan di ikuti istrinya.
Mereka berjalan mendekati pintu depan tanpa curiga. Sambil menyalakan lampu depan mereka berjalan mendekati pintu. Setelah pintu dibuka, mereka tidak mendapati siapa-siapa. Mereka melihat ke kanan-kiri tak ada sesuatu yang mencurigakan ataupun pertanda sesuatu. Namun di ujung jalan mereka menyaksikan seekor burung Merpati putih mulus sedang bermain sendirian diatas tanah. Burung tersebut berjalan kesana-kemari terlihat mencari sesuatu. Bungkin meminta perhatian mereka berdua, sehingga mampu membuat kedua suami-istri tersebut bertanya-tanya dalam hati.
“sudah bu, masuk nggak ada apa-apa, cuma doro putih gitu kok”, ajak Kirno sambil berjalan masuk rumah kembali.
Mereka kembali ke kamar dan ingin melanjutkan tidurnya. Sebentar saja terdengar Kirno mendengkur kecil dan halus. Sementara Ngaisah justru gelisah tak dapat tidur. Ia mulai menggelisahkan pertanyaan-pertanyaan yang di sampaikan suaminya setelah makan malam tadi. Sama dengan suaminya, ia mulai mengingat kegetiran-kegetiran pada awal rumah tangganya. Masih ingat betul dalam benak Ngaisah rumah gedhek yang roboh kena angin puyuh, namun dengan bantuan dari beberapa tetangganya ia dapat membangun rumahnya kembali, masih untung ia dan suaminya selamat, tidak tertimbun di rumahnya yang roboh tersebut. karena kebetulan saat itu ia belum pulang dari bekerja di sawah milik tetangganya bersama Soekirno.
Kokok ayam mulai berbunyi, ia mengingat anaknya yang hanya satu, Fatimah, hari ini anaknya tersebut akan pulang dari kunjungan ke beberapa perusahaan, di pulau Dewata. Ngaisah membayangkan betapa keceriaan anak gadisnya dapat pergi bersama teman-teman sekolahnya di tempat wisata terbaik di negri ini. “beruntung sekali kamu nduk, meskipun hanya hidup seadanya, tapi kamu masih bisa sekolah”, pikirnya dalam hati. Gema takbir, memudarkan pikirannya, lalu ia bergegas menuju masjid untuk melaksanakan sholat Shubuh.
III
Pagi itu, mereka nampak lebih akrab, bahkan terlihat sangat mesra. Soekirno dan Ngaisah sengaja tidak berangkat kerja karena menunggu kedatangan putri tercintanya. Mereka duduk-duduk di ruang depan sambil menonton berita pagi di telivisi. Seperti biasa, Kirno masih menikmati kopi dan rokok lintingannya sendiri. Ia nampak segar setelah mandi di nglarik samping rumahnya. Sedang Ngaisah masih memegang piring yang masih ada sepotong tempe dan krupuk goreng. Ia masih menyelesaikan sarapan pagi dengan sambal terasi favorit keluarga kecil tersebut. sesekali ia berkomentar tentang para politisi yang ada di telivisi.
“kapan ya pak, orang kaya’ bu Mega dan Pak Amin itu mau melihat kita, rakyat kecil?”, ucap Ngaisah seperti bertanya sendiri.
“kamu itu lho bu, ada-ada saja, merekakan memikirkan orang se-Indonesia, buat apa ngurusi kita, kita ya termasuk rakyat Indonesia yang di urusi tadi, mungkin saja mau kesini kalau kita punya gawe besar, tapi itukan nggak mungkin”, komentar Soekirno yang semakin Absurd.
“ngomong-ngomong soal gawe, semalam sebelum kita bangun untuk membuka pintu, aku mimpi kayaknya punya gawe lho pak, rumah kita terlihat banyak sekali tamu, ada apa ya pak?”, tanya istrinya sambil meletakkan piring kosong di atas meja.
“ibu itu lho, bicaranya semakin ngawur”, jawab suaminya singkat.
Mereka berdua memandangi TV dengan tatapan kosong, menerawang jauh di alam pikirannya masing-masing. Ngaisah memikirkan suatu saat akan kedatangan banyak tamu dirumahnya, bahkan pejabat nasional. Sementara Soekirno, memikirkan mungkin saat ini ia dicari teman kerjanya karena ia tidak berangkat, malah tidak izin sebelumnya.
Tiba-tiba ia tercengang melihat berita di televisi yang mengabarkan sebuah kecelakaan di Jawa Timur. Mereka semakin kaget, setelah mengetahui korban kecelakaan adalah rombongan anak-anak sekolah. Ngaisah semakin cemas setelah mengetahui rombongan tersebut adalah rombongan dari sekolah Fatimah. Rokok di tangan Soekirno segera dimatikan dan melihat dengan jelas berita telivisi itu semakin dekat. Suami istri tersebut semakin panik, mendengar bahwa rombongan bis kedua seluruh penumpangnya tewas terbakar. Mereka kalut, panik dan emosional.
“Pak de, bis yang di naiki Fatimah terbakar di Situbondo”, kata keponakan mereka yang datang dari sebelah rumah.
“Fatimah, kemarin kalau nggak salah naik bis nomer dua, aku kan kemarin yang ngantar pemberangkatannya di sekolah”, tambah remaja itu meyakinkan.
Sementara Soekirno tertunduk lesu, beku, dan hampir membenarkan mimpi istrinya yang baru saja diceritakan. Sedang Ngaisah hanya melihat ribuan bintang yang menjejali matanya, dan kemudian gelap. (fmf)







0 komentar:
Posting Komentar